Monday, September 16, 2024

3. Price Book Value (PBV)

 

Apa itu PBV (Price-to-Book Value)? Pengertian, Rumus, Ide Riset

RUSTANDI - Apabila kamu sering mengikuti berita maupun data mengenai perusahaan publik, pasti kamu sudah tidak asing lagi dengan PBV (price-to-book value). PBV adalah salah satu rasio yang paling sering dan mudah digunakan untuk mengukur nilai sebuah perusahaan. Namun, apa itu PBV sebenarnya? Bagaimana cara menghitung PBV? Apa saja kelebihan dan kelemahan PBV? Apakah PBV dapat dijadikan bahan penelitian? Simak penjelasan lengkapnya disini.

Pengertian PBV (Price-to-Book Value)

PBV (Price-to-book Value, dikenal juga sebagai Price-to-Book Ratio atau P/B Ratio) adalah rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan. PBV sering dijadikan acuan oleh para investor saham, karena rasio ini dapat menunjukkan apakah harga saham sebuah perusahaan tergolong murah atau mahal.

Rumus PBV (Price-to-Book Value)

Rumus PBV adalah:

Kapitalisasi pasar / Nilai buku

atau

Harga per lembar saham / Nilai buku per lembar saham

dengan Nilai Buku = Total Aktiva – Aktiva Tak Berwujud – Total Hutang

Terdapat 3 kemungkinan nilai PBV: sama dengan 1, kurang dari 1, dan lebih dari 1. Semakin tinggi PBV sebuah perusahaan, semakin mahal harga saham perusahaan tersebut. Sebaliknya, semakin rendah PBV sebuah perusahaan, semakin murah harga saham perusahaan tersebut.

PBV = 1 menunjukkan bahwa harga saham perusahaan saat itu sama dengan nilai buku perusahaan. Dengan kata lain, harga saham perusahaan tersebut sangatlah wajar, apabila hanya diteliti dari PBV-nya.

Apabila PBV ≠ 1, maka terdapat 2 kemungkinan: saham perusahaan tersebut mahal (overvalued) atau murah (undervalued). PBV > 1 menunjukkan bahwa harga saham sebuah perusahaan mahal karena lebih tinggi dibandingkan nilai bukunya. Sebaliknya, PBV < 1 menunjukkan bahwa harga saham sebuah perusahaan murah karena lebih rendah dibandingkan nilai bukunya.

Berapa PBV (Price-to-Book Value) yang Baik?

Banyak investor yang lebih menyukai PBV < 1 karena mengindikasikan harga saham yang murah. Namun, PBV < 1 juga dapat mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut memiliki kinerja keuangan yang buruk. Sehingga, apabila kamu menggunakan PBV untuk menganalisa keuangan sebuah perusahaan—baik sebagai investor maupun peneliti—sebaiknya kamu menggunakan rasio lain juga, seperti 

 PBV dan ROE umumnya berkorelasi dengan baik, dan perbedaan yang signifikan antara keudanya dapat menunjukkan potensi permasalahan keuangan dalam perusahaan yang kamu teliti.

Keunggulan PBV (Price-to-Book Value)

Terdapat 2 keunggulan PBV dalam menganalisis nilai sebuah perusahaan:

  1. Mudah digunakan
    Data PBV dapat ditemukan dengan mudah bagi perusahaan publik manapun, sehingga peneliti dan investor dapat menganalisa angkanya tanpa mencari dengan sulit.
  2. Tetap berguna walaupun perusahaan merugi
    Dibandingkan rasio-rasio lainnya yang sangat terpengaruhi oleh laba/rugi perusahaan, PBV tidak meudah dipengaruhi oleh laba negatif (rugi) karena tidak banyak perusahaan yang memiliki nilai buku negatif. Walau demikian, apabila perusahaan sudah merugi selama bertahun-tahun, maka PBV perusahaan juga tidak dapat dijadikan acuan lagi. 

Kelemahan PBV (Price-to-Book Value)

Terdapat 3 kelemahan PBV dalam menganalisis nilai sebuah perusahaan:

  1. Hanya berguna untuk perusahaan padat modal (capital intensive)
    PBV hanya berguna untuk industri padat modal (capital intensive), seperti transportasi, manufaktur, dan energi, karena aset berwujudnya yang tinggi. Apabila sebuah industri/perusahaan tidak memiliki banyak aktiva berwujud (seperti industri IT/software) maka PBV-nya akan cenderung tinggi namun tidak sepenuhnya mewakili kinerja keuangan perusahaan.  
  2. Kurang relevan bagi perusahaan dengan hutang yang tinggi
    Perusahaan dengan hutang yang tinggi dapat memiliki PBV yang sangat tinggi, namun bukan berarti bahwa perusahaan tersebut memiliki kinerja keuangan yang baik (McClure, 2021).
  3. Mudah dipengaruhi nilai aktiva
    Perusahaan yang mencatat aktivanya berdasarkan harga pembelian dapat memiliki PBV yang lebih tinggi dari seharusnya, terutama apabila aktiva tersebut telah berumur dan harga pembeliannya cukup murah di masa lalu. Selain itu, perusahaan juga dapat memiliki PBV yang lebih tinggi dari seharusnya apabila perusahaan menggunakan uang tunainya untuk dana pensiun, sehingga aktiva perusahaan tersebut berkurang. Dua kemungkinan ini menunjukkan bahwa PBV tidak selalu menunjukkan kondisi keuangan perusahaan yang sebenarnya terjadi. (McClure, 2021)

Ide Penelitian Mengenai PBV (Price-to-Book Value)

PBV merupakan rasio yang banyak digunakan oleh peneliti dan investor untuk menganalisa sebuah perusahaan karena kemudahannya dan datanya yang tersedia secara publik.

Beberapa penelitian terdahulu menemukan bahwa:

  • PBV (Price-to-book Value)earnings per share (EPS) dan dividend payout memiliki dampak yang signifikan terhadap harga saham, namun Net Profit Margin tidak. 
  • PBV (Price-to-book Value) dan earnings per share (EPS) memiliki dampak positif dan signifikan terhadap stock return 
  • PBV (Price-to-book Valuedan firm size (ukuran perusahaan) memiliki dampak yang signifikan terhadap stock return 

Dikarenakan adanya perbedaan dalam penemuan (yang bisa jadi berkaitan dengan ruang lingkup regional penelitian), salah satu penelitian yang dapat kamu lakukan adalah mereplika penelitian terdahulu menggunakan bukti terkini dari perusahaan publik Indonesia.

PBV dapat menjadi variabel independen maupun dependen dalam penelitian kamu. Kamu dapat menghubungkan PBV dengan:

  • Harga saham
  • Return on Equity (ROE)
  • Return on Assets (ROA)
  • Debt-to-Equity Ratio
  • Net/Gross Profit Margin
  • Current Ratio
  • Quick Ratio
  • Cash Ratio
  • Firm size
  • Capital expenditure

Masih bingung ingin meneliti tentang apa? Berikut adalah beberapa ide penelitian mengenai PBV (Price-to-book Value):

  • Pengaruh sektor perusahaan terhadap PBV (Price-to-book Value)
  • Pengaruh firm size (ukuran perusahaan) terhadap PBV (Price-to-book Value) di perusahaan publik Indonesia sektor …
  • Pengaruh PBV (Price-to-book Value) terhadap harga saham
  • Hubungan antara current ratio dan PBV (Price-to-book Value)
  • Hubungan antara quick ratio dan PBV (Price-to-book Value)
  • Hubungan antara cash ratio dan PBV (Price-to-book Value)
  • Hubungan antara net/gross profit margin dan PBV (Price-to-book Value)
  • Hubungan antara return on equity (ROE) dan PBV (Price-to-book Value) dalam perusahaan publik Indonesia sektor …
  • Hubungan antara return on assets (ROA) dan PBV (Price-to-book Value) dalam perusahaan publik Indonesia sektor …
  • Pengaruh capital expenditure terhadap PBV (Price-to-book Value)

Istilah price to book value bukanlah suatu hal yang asing di telinga para investor saham. Menurut Warren Buffet, PBV adalah salah satu indikator atau ukuran penting yang patut para kita pertimbangkan sebelum memutuskan suatu saham layak dibeli atau tidak. 

Apa itu PBV dan bagaimana cara menghitungnya? Yuk, kita kupas tuntas pada artikel berikut!

Apa Itu PBV?

PBV adalah rasio harga saham (stocks) di pasar terhadap nilai buku untuk melihat apakah harganya masuk dalam kategori murah (undervalued) atau mahal (overvalued). Sebagai salah satu jenis rasio keuangan, PBV saham bisa menjadi bahan untuk menganalisis kondisi finansial suatu perusahaan yang ingin kamu beli sahamnya. 

Rasio PBV memberikan gambaran seberapa besar kemampuan emiten menghasilkan nilai dari modal yang diinvestasikan. Selain itu, penghitungan rasio ini juga bertujuan untuk melihat berapa banyak investor yang berkontribusi dalam pendanaan aset bersih dari sebuah perusahaan.

Apabila rasio PBV <1, maka dapat kita katakan harga sahamnya murah, sementara jika >1 maka harganya mahal. Namun, ada beberapa faktor pertimbangan lainnya seperti nilai rata-rata PBV emiten lain di industrinya dan sejarah rasio PBV di perusahaannya.

Fungsi PBV Bagi Investor

Price to Book Value adalah ukuran bagi investor untuk menilai harga sebuah perusahaan. Rasio tersebut bisa jadi pembanding saham satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Melalui perbandingan tersebut, investor bisa menentukan harga stocks mahal (overvalued) atau murah (undervalued). Makanya, angka tersebut bisa jadi penentu, nih, kira-kira saham perusahaan worth it atau nggak untuk kamu beli saat ini.

Berapa Rasio PBV Saham yang Bagus?

Rasio PBV adalah indikator yang membantu investor mengetahui harga wajar dari suatu saham sehingga kita bisa menilai kelayakannya untuk dibeli saat ini. Jika PBV sama dengan 1, maka kalau sewaktu-waktu perusahaan tersebut dilikuidasi, kamu bisa menagih 100% dari total investasimu.

Kalau PBV <1, maka harga sahamnya berada di bawah nilai perusahaan sesungguhnya. Sebaliknya, kalau PBV >1, maka nilainya relatif mahal, karena harga pasar lebih tinggi dari nilai bukunya.

Akan tetapi, kamu perlu tahu bahwa PBV bukan satu-satunya rasio yang digunakan untuk menghitung valuasi dari sebuah saham. Jadi, dalam analisis, kamu juga perlu menghitung rasio keuangan lain seperti PER, P/E Ratio, dan lain sebagainya.

Bagaimana Cara Menghitung Price to Book Value?

Sebelum menghitung rasio perbandingan harga pasar dengan buku, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah hitung dulu book value per sharenya (BVPS).

BVPS adalah jumlah nilai ekuitas yang dimiliki oleh setiap lembar saham yang beredar di pasar. Book value per share akan menunjukan seberapa besar nilai yang akan investor terima per lembar sahamnya seandainya perusahaan mengalami likuidasi.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan perbankan PT Elang Terbang, Tbk. nilai ekuitasnya mencapai Rp50 Triliun dan jumlah instrumen yang beredar adalah 70 Miliar lembar. Harga pasar per sharenya adalah Rp1.500 per lembar. Maka, perhitungannya adalah sebagai berikut:


Diketahui:

  • Nilai ekuitas PT Elang Terbang, Tbk. Rp50 T
  • Jumlah stocks beredar 70 Miliar lembar

Ditanya: Berapa BVPSnya?

BVPS = Nilai Ekuitas : Jumlah Saham Beredar

           = 50.000.000.000.000 : 70.000.000.000

BVPS = Rp714 per lembar

Maka, perhitungan rasio PBVnya adalah:


PBV = 1.500 : 714

        = 2,1

Dengan rasio sebesar 2,1 artinya PBVnya PT Elang Terbang, Tbk. lebih besar dari 1. Kalau hanya mengacu pada acuan tersebut, artinya saham dari PT Elang Terbang cenderung overvalued.

Namun, berdasarkan data, rata-rata price to book value industri perbankan adalah 2,5. Artinya, PBV PT Elang Terbang, Tbk. lebih rendah dari harga di pasaran (undervalued) dan cukup potensial untuk investor beli.

Pentingnya Membandingkan PBV antar Saham

Oh, iya, untuk mengetahui data-data untuk perhitungan BVPS, kamu bisa mengunjungi situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI). Agar lebih efektif, kamu bisa bandingkan nilai PBV antar saham di industri atau sektor bisnis yang sama.

Hal ini dikarenakan setiap sektor bisnis punya rata-rata price to book value yang berbeda, karena adanya perbedaan bidang dan skala bisnis. Jadi, membeli saham dengan PBV tinggi belum tentu merugikan, ya.

Selain itu, jangan jadikan PBV sebagai satu-satunya acuan dalam pengambilan keputusan investasimu. Ada beberapa indikator analisis lain yang bisa membantumu menentukan pilihan saham terbaik untuk investasi.

Kesimpulan

Sebelum mulai berinvestasi, sebagai investor kita patut jeli dan memiliki product knowledge yang mumpuni agar tidak salah pilih bahkan terjebak investasi bodong. Terlebih lagi, berinvestasi pada risky asset. Butuh kemampuan analisis fundamental dan teknikal yang mumpuni agar hasil investasimu optimal. Salah satunya adalah dengan menghitung PBV saham. Perhitungan rasio ini bisa jadi dasar kamu dalam memilih saham yang sedang murah (undervalued).

Bagi investor yang baru mulai berinvestasi dan merasa hitung-hitungan dengan rumus cukup memusingkan, tetapi ingin tetap berinvestasi saham, produk reksadana saham (RDS) bisa jadi alternatif menguntungkan. Reksadana adalah wadah untuk mengumpulkan dana kolektif dari investor untuk berinvestasi bersama pada instrumen pasar modal. Kumpulan dana tersebut akan dikelola langsung oleh Manajer Investasi ke berbagai portofolio efek pasar modal, salah satunya adalah saham.

Keberadaan RDS mewadahi kamu yang masih pemula dan ingin berinvestasi langsung pada saham, tetapi belum punya kemampuan analisis mumpuni. Penyusunan strategi investasi dan analisis berkala menjadi tugas manajer investasi. Jadi, pada produk RDS, manajer investasi akan mengalokasikan dana investor pada saham terbaik di bursa.




0 comments:

Post a Comment